Dan Inikah???

10/05/2012

   Rektorat UI..

Langit biru mulai memudar oleh halusnya awan-awan putih yang bergelayut mesra. Menyiratkan sebuah keteduhan dalam payung-payung sutera. Awan putih merengkuh kalbu dengan sejuta kelembutan dan tetap tenang walau suriah kerap kali menantang dengan sinar jingganya yang tampak acuh tak acuh.  Warnanya terang benderang, kadang menyengat dengan pesona kuning keemasannya. Entahlah, sepertinya ia enggan menjauhi tempatnya berpijak.

Ah,indah sekali tempat itu. Gedung Rektorat yang menjulang tingggi tampak gagah serta megah dengan sentuhan warnanya yang  natural. Mengacung dan menantang seolah-olah ingin menembus langit yang biru. Betapa hebatnya gedung tersebut sehingga para mahasiswa yang merindukan kejayaan menginginkan mengabadikan momen kedatangan dan kepulangaan yang berharga dari kampus perjuangan di sana. 


Layaknya seorang saksi, gedung tersebut mengamati para civitas Academica dari tahun ke tahun dengan alam pikirannya sendiri. Entah apa yang akan dikatakannya jika ia bisa berbicara. Simbol intelektualitas pun secara abadi melekat kepada dirinya sampai akhir zaman.  Pohon-pohon tumbuh dengan rimbun di halaman depannya. Pohon yang hijau, segar dan subur. 

Di pagi hari, pohon tersebut tampak embun yang menyembul bening, laksana kaca, mereka murni, bening dan menyejukkan. Burung-burung pasti akan sangat suka berterbangan kesana kemari untuk berpindah dari satu dahan kedahan yang lain. Mereka bersenandung dalam kicauan, dan berteduh dari sengatan panas matahari dan dinginnya hujan yang membekukan paruh.  

Rumput-rumputpun akhirnya mulai menghijau, tumbuh subur dan berjuntai-juntai menghiasi seaentaro gedung. Rerumputan yang indah bahkan tanpa cela dan marah meski tubuh mereka menjadi pijakan sekalipun. Semua tampak indah, jalan kecil untuk ditapaki bersama, dimana bunga-bunga kerdil bertebaran disetiap sisi kanan dan kiri. 


Bunga-bunga yang mengisyaratkan kedamaian layaknya tulus cinta seoarang ibu terhadap bayi dalam kandungannya. Bunga-bunga itu merekah dengan mahkota kelopak yang berbinar, di mana sayap kupu-kupu hilir mudik dalam kesibukan yang turut terlibat dalam proses jatuhnya benang sari kekepala putik. Maka munculah bunga yang baru dan begitu seterusnya. Mungkin hingga nanti, hingga suriah enggan mewarnai taman ini.

You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Gallery