Keangkuhan Intelektual dan Konsepsi Harapan

8/03/2013


“”.......Kaum eksistenisialis  bersikukuh bahwa eksistensi akan selalui mendahului esensi, dan dalam adigum ini  Aku seolah mendapatkan legitimasi untuk mengklaim tentang apa yang diriku lakukan. Aku sebagai pengada alias eksistensi yang berkesadaran adalah orang yang selalu menyangsikan pengetahuan  yang  beredar mengellilingi  kapasitas kepalaku, hal demikian aku lakukan setidaknya sebagai jalan untuk membentuk dan menyusun esensi. Walaupun demikian agaknya pada titik ini aku merasa telah mengikuti jejak si tua bangka Russel yang mana ia sendiri juga selalu diliputi oleh kesangsian akan berbagai macam pemikiran . Tapi ah, rasanya  terlalu dini jika aku menarik kesimpulan bahwa aku seperti Russel.  Walaupun demikian sebagaimana yang telah kutulis dalam kalimat sebelumnya, Terkadang pula disaat-saat aku berusaha untuk membentuk esensi hidupku tersebut, aku pernah mengalami stagnasi pemikiran yang terjawantahkan dalam pertanyaan sederhana namun mendalam yakni mengenai apa guna diriku  hidup, namun akupun tidak setuju jika aku mengatakan hal demikian sebagai stagnasi pemikiran, karena aku rasa stagnasi pemikiran itu juga merupakan bentuk kesangsianku akan pengetahuan yang bergejolak dalam kepalaku. Sehingga dapat dikatakan bahwa didalam kepalaku selalu terdapat semacam dialektika tanya jawa terhadap sesuatu yang datang baik itu dari luar kepalaku ataupun dari dalam kepalaku itu sendiri. Kembali kepertanyaan mengenai apa guna diriku hidup. Entah bagaimana aku bisa berandai-andai seperti ini, namun jujur saja rasa-rasanya jika hidupku dilihat dari atas langit maka rasanya aku dapat bersumpah bahwa hidupku menjadi amat sangat berpola repetisi mekanistik, jam sekian pergi sekolah, jam sekian makan, jam sekian tidur, dan jam sekian memikirkan hidup. Yang kumaksudkan adalah bukan mengenai jam, menit dan detik yang juga persis sama melainkan pola yang tiap hari kulakukan adalah serupa. Aku rasa, yang mengalami inipun bukan hanya aku saja karena aku yakin semua orang secara imperatif kategoris juga merasakan hal yang serupa denganku namun tidaklah terlalu memperdulikannya. Jelas bukan tanpa alasan untuk tidak peduli melainkan kerena salah satunya sudah dibuat amnesia dengan ditekan sedemikan rupa oleh mekanisme sruktur sosial. Tentu saja, disini aku tidak akan  mempersalahkan bahwa adanya struktur sosial itu buruk. Justru sebaliknya dengan adanya struktur sosial manusia menjadi leih manusiawi karena dapat menikmati relasi kemanusiaan. biarpun demikian juga tidaklah salah jika aku masih mempertanyakan mengenai apa guna diriku hidup. Lantas, apa jawabannya? alih-alih menjawab ternyata keangkuhan intelektualkupun justru tidak bisa memberikan jawabannya sama sekali. Pada suatu kesempatan dalam pengalaman eksistensial, aku saat itu seperti akan berteriak “eureka” ketika mendapatkan jawabannya secara tak disangka-sangka. Bahwasanya dalam hidupku akan senantiasa terdapat berbagai macam kemungkinan akan suatu jawaban dari pertanyaan tersebut, sehingga jawabannya adalah multi jawaban. Hal ini disebakan karena Akulah yang memaknai hidupku sendiri, akulah yang akan menjalaninya, akulah yang akan merasakan dampaknya. Dan tentu saja, aku senantiasa bertahan untuk memaknai hidup, menjalaninya dan bahkan merasakan dampaknya sampai detik ini karena nun jauh di sana terdapat suatu konsepsi harapan, yang aku juga tidak pahami apa itu harapan sesungguhnya. Maka disini harus aku akui pula memang bahwa harapan-harapan itu terkadang akan sangat sering irasional yang tak jarang logikapun tidak bisa menerimanya, namun justru karena ia irasionalah maka aku mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus mengatasi keangkuahan intelektualku dan bertindak merebut harapan-harapanku tersebut ...”

nb : kutulis ini untuk semua orang yang pernah kukenali ;)

You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Gallery