Pendidikan Dialogik

8/28/2013

Mendadak terinspirasi oleh Pak Darsono. Yaps, beliau adalah seorang pendiri Universitas Pamulang yg notabene kampus sangat merakyat. Betapa tidak, saya melihat dengan mata saya sendiri bahwa yg namanya perjuangan hidup lebih terasa di sana dibanding di kampus yg saya duduki sekarang. Bahkan pada suatu titik saya merasa bhwa lebih banyak kemunafikan di kampus saya sendiri . Tetapi tidak untuk civitas kampus tsb, kmpus tsb sungguh luar biasa, menawarkan kejujuran yg berasal dari hati nurani
Memang tak dapat dipungkiri bnyak yg menilai bhwa Universitas tsb adalah "abal2 lah" , "ga bermutu lah" Tapi bagi saya justru inilah yg dinamakan "pendobrakan status quo pendidikan" bahwa sejatinya pendidikan adalah bukan hanya untuk orang kaya, tapi juga untuk orang miskin, tertindas, dan termarjinalkan.
Buruh, Ibu rumah tangga, petani, pemulung, pedagang asongan bebas untuk mengakses pendidikan disini. Dan bahwa sesungguhnya pula saya sangat berharap akab banyak orang memiliki cita-cita mulia seperti Pak Darsono tersebut.
Huffftt, mungkin dalam teori fungsionalisme struktural, pendidikan semacam ini tidaklah dimungkinkan demi mempertahankan apa yg dinamakan status quo. Bahkan parahnya lagi Gans menilai bahwa kemiskinan memiliki 15 fungsi bagi suatu sistem sosial yg mana jika kemiskinan tersebut dihapuskan akan merusak tatanan sistem yg ada. Tapi hey, pertanyaanya adalah apakah kita harus mengamini teori tsb? karena seperti apa dikatakan oleh Freire dalam pendobrakan status quo bahwa yang namanya pembebasan tidaklah datang dengan sendirinya dari atas. Dan pada titik ini saya melihat bahwa universitas tersebut telah menjadi alternatif dalam tindakan dialogik sehingga kaum termarjinalkan menjadi sadar akan situasi sosialnya, ya inilah yg dinamakan memanusiakan manusia.
karena pada akhirnya susungguhnya manusia adalah sama di Mata Tuhan.
sekian dan terimakasih. (:

You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Gallery