Saya, Skripsi dan Wisuda

10/31/2015


Saya yakin betul bahwa setiap manusia itu memiliki dimensi historisitasnya masing-masing, berusaha menjalaninya, hingga membentuk narasi yang penuh makna. Meminjam kata-kata puitis dari Heideger, manusia adalah sesuatu yang tergeletak di sana (Das-Sein). Di situ manusia telah selalu menjumpai dirinya menyatu dengan dunia, dan terlibat di dalam sebuah dunia yang hadir bagi dirinya yang dilibati (zuhandenes). Dalam konteks perjalanan akademik yang saya lalui, saya dilemparkan pada sebuah dunia akademik S1 jurusan Filsafat di Universitas Indonesia angakatan 2011. Untuk itulah, dalam tulisan ini saya akan menarasikan keterlibatan saya dengan dunia akademik tersebut hingga berhasil menjadi seorang sarjana filsafat.

Sebagai permulaan dari tulisan ini, perlu dipahami bahwa saya hanyalah anak dari seorang buruh harian, yang kerapkali untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari mengalami kesulitan. Meskipun demikian, adalah suatu berkah yang amat mewah dari Allah, bahwa saya berhasil tembus UI dengan beasiswa penuh, beasiswa bidikmisi. Di dalamnya saya kuliah empat tahun secara bebas biaya serta mendapatkan uang saku tiap bulannya. Sejak saat itulah saya bersumpah pada diri sendiri bahwa saya tidak akan menyia-nyiakan pendidikan ini dan berjanji untuk meraih predikat cum-laude kelak.

Sebagai seorang mahasiswa filsafat, saya dilatih untuk berpikir secara spekulatif dan kian abstrak. Akan tetapi, saya menyadari bahwa keterlibatan pada berpikir filosofis yang kian absolut tersebut hanya akan menimbulkan sikap arogan dan menjadi bumerang untuk diri saya sendiri. Oleh karena itu saya memutuskan untuk menghabiskan waktu di kampus untuk berorganisasi, aktif pada kajian sosial-politik di lembaga formal kemahasiswaan. Di situ saya lalu terlibat pada kajian menganai problem badan hukum pendidikan, mekanisme dan distribusi pencairan beasiswa, menyoal penaikan harga BBM, menganalisa RUU kebudayaan, hingga membuat rekomendasi kebijakan untuk rektor baru UI.

Apa yang saya lakukan itu bermula dari petuah seorang senior yang pernah mengatakan bahwa “apabila lo cuma mau kuliah-pulang kuliah-pulang doang, maka IP lo harus 4,0 tiap semesternya, sanggup ga lo?” Di situlah saya sadar bahwa karena saya tidak mungkin mendapatkan IP 4,0 maka saya akan aktif berkontribusi di luar ruang kelas. Dan belakangan saya menyadari bahwa apa yang saya lakukan selama di kampus ternyata memberikan banyak manfaat bagi studi saya sendiri, dan utamanya juga banyak menyumbang untuk produk penelitian terakahir saya di S1, skripsi.

Sejak awal kuliah, saya telah memiliki niatan yang sangat besar untuk menuliskan skripsi yang bertemakan pendidikan. Konsekuensinya tatkala memasuki semester tujuh dan dikondisikan untuk mengikuti kelas metode penelitian dan kelas seminar filsafat, saya tidak terlalu mengalami kebingungan topik skripsi. Di situ saya menyodorkan judul proposal skripsi yang amat rumit, yakni “Penelusuran Kuasa Aparatus Ideologis Global dalam  Institusi Pendidikan: Suatu Kajian Filsafat Ideologi Louis Althusser”. Tesis utama dari skripsi tersebut ingin membuktikan bahwa dalam dunia global seperti saat ini, institusi pendidikan tidaklah pernah independen, melainkan ada di bawah bayang-bayang kuasa tiga institusi besar global yang terdiri dari WTO, IMF, dan World Bank yang tujuannya adalah privatisasi pendidikan demi melanggenkan kapitalisme global. Dengan kata lain, saya ingin membuat skripsi filsafat yang berpijak pada leksikon hubungan internasional, pendidikan, politik, hingga ideologi yang menggunakan perspektif ke-kiri-kiri-an.

Pada mulanya saya memilki keyakinan bahwa dapat menyelesaikan skripsi seperti itu. Di semester delapan proposal skripsi saya itu disetujui oleh ketua prodi filsafat UI dan dianggap layak untuk dijadikan skripsi. Pembimbing skripsi pun sudah saya dapatkan, yakni salah seorang dosen filsafat politik terbaik yang pernah dimiliki oleh filsafat UI. Akan tetapi optimisme saya terhadap dosen tersebut nyatanya harus kandas di tengah jalan. Adalah bahwa saya sangat sulit untuk menemui beliau, dihubungi via whatsapp hanya di read saja tanpa ada balasan. Saya memang mengalaminya tidak sendirian, karena ada satu kawan saya di S1 dan dua kawan di S2 yang mengalamai nasib yang serupa.

Belakangan saya mengetahui bahwa pembimbing saya ini sedang dirundung masalah pribadi dengan istrinya yang merupakan seorang anggota dewan. Belakangan pula saya mengetahui bahwa keduanya ternyata resmi bercerai. Jadilah saya berada di sebuah situasi tragis dengan absennya pembimbing sama sekali. Perasaan saya saat itu begitu sakit hati, marah, dan kesal. Yang saya pikirkan saat itu adalah, mungkinkah saya dapat lulus tepat waktu tanpa pembimbing?. Pikiran seperti itulah yang membebani pikiran saya setiap harinya. Jujur saya sempat iri terhadap kawan-kawan lain yang dapat berkomunikasi dengan pembimbingnya setiap hari, bahkan di antaranya ada pembimbing yang sangat perhatian, menanyai si mahasiswa via whatsapp akan sejauh mana progres yang telah dilakukan tanpa perlu diminta sama sekali.

Dalam kondisi batin yang amat tertekan karena tidak dibimbing sama sekali, saya banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, mushola, hingga majid kampus untuk terus membaca, menulis, mebaca, dan menulis lagi. Di setiap sholat yang saya lakukan, saya selalu mengadu pada Allah akan kesulitan yang saya rasakan, dan di dalamnya saya selalu berdoa agar apa yang saya proyek skripsi yang saya lakukan ini agar dimudahkan. Beruntung saya memiliki orang-orang yang senantiasa menyemangati saya, keluarga saya terutama ibu yang kerap meyakinkan saya bahwa saya itu dapat dan harus lulus tepat waktu.

Dalam kegiatan membaca, kelemahan terbesar yang ada pada diri saya adalah kemampuan berbahasa inggris. Padahal, seluruh teks yang saya gunakan untuk menggarap skripsi tersebut sebagian besar adalah buku-buku primer berbahasa Inggris. Awalnya terasa begitu berat membaca teks berbahasa inggris, bahkan dengan bodohnya saya pernah mencoba menterjemahkan beberapa halaman buku-buku tersebut di google translate, walhasil bukan kemudahan yang saya temui, melainkan suatu salah-pengertian akan hasil terjemahan yang disesaki oleh kekeliruan lingusitik.

Sejak saat itu saya mencoba mencari jurnal-jurnal berbahasa inggris yang membahas intisari dari pemikiran filsuf yang saya bahas. Dengan cara seperti itu saya mendapatkan berbagai-macam kosa-kata si filsuf, serta mendapatkan gambaran mengenai apa yang sedang dibahas oleh si filsuf itu sendiri. Setelah itu barulah saya membaca teks primernya, dan ternyata dalam sebuah buku berbahasa inggris, apabila kita menguasai kata kuncinya maka kata kunci tersebut akan terus berulang di setiap halaman. Kosa kata yang digunakan si filsuf nyatanya juga mengalami repetisi hingga ke akhir halaman. Atas dasar tersebut saya seringkali menyiapkan kertas A4 kosong dan menuliskan puluhan kosa kata baru.

Di tengah kemungkinan dan ketidakmungkinan saya dalam menyelesaikan skripsi, musibah sekali lagi datang menimpa. Dua bab yang telah saya tuliskan terhapus dari flashdisk. Segala software pengembalian data telah saya coba, namun sayang hasilnya nihil. Di situ saya lalu menjadi contoh nyata bagi kawan-kawan di jurusan filsafat untuk tidak menyimpan file penting seperti skripsi pada satu perangkat saja. Sejak saat itu, saya melihat kawan-kawan lainnya rajin menyimpan skripsinya di berbagai tempat penyimpanan online di internet dengan tujuan menghindari nasib sial seperti saya.

Meskipun saya awalnya dan banyak yang lainnya mengira bahwa peristiwa terhapusnya file skripsi adalah musibah dan suatu bentuk kesialan tersendiri, namun nyatanya peristiwa itu justru adalah anugerah. Dalam ungkapan teologis, selalu ada hikmah di setiap peristiwa. Sebabnya hal itu menjadi momentum bagi saya untuk mempertanyakan kembali akan kemampuan saya dalam menyusun topik skripsi tersebut. Perlu diketahui bahwa sebetulnya sejak awal menuliskan skripsi, saya telah mempersiapkan dua topik skripsi yang saya sebut sebagai “rencana maksimal” dan “rencana minimal”. Apabila “rencana maksimal” adalah sebentuk narsisme intelektual yang ingin saya ungkapkan dalam bentuk skripsi, maka “rencana minimal” adalah produk dari keinsafan saya akan limit dari kemampuan diri sendiri. Di titik itulah saya kemudian mulai berputar haluan untuk menjemput “rencana minimal” untuk segera dieksekusi.

Lebih lanjut, judul dari “rencana minimal” itu saya namai; “Overdeterminasi Sebagai Posibilitas Interpelasi Diferensial: Suatu Kajian Terhadap Marxisme Struktural Louis Althusser”. Tesis utamanya adalah membuktikan adanya kemungkinan perubahan sosial dari gagasan seorang filsuf struktural yang bernama Althusser. Dalam proyek rekonstruksi skripsi inilah saya semakin banyak belajar tentang apa itu artinya menjadi penulis, editor, pembimbing, dan penguji sekaligus. Apabila setiap selesai menuliskan satu paragraf, maka saya selalu membuat beberapa pertanyaan terhadap apa yang saya telah tuliskan itu sendiri. Seperti sejauh mana kelemahan dari argumentasi yang saya susun, apa bantahan dari struktur logis tulisan yang saya buat, apa konsekuensi dari setiap kata yang saya gunakan dan setumpuk pertanyaan lainnya. Hal itu saya lakukan guna mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan dari para penguji nantinya.

Jurusan saya memiliki dua tahapan sidang, yang pertama disebut pra-sidang, sementara yang kedua adalah sidang. Sebagai syarat formil mengikuti pra-sidang, saya harus mencari tanda-tangan pembimbing, dan dengan melalui tahapan yang rumit, akhirnya saya berhasil menemui pembimbing hanya untuk sekadar minta tanda tangannya saja. Pada tanggal 20 Mei 2015 saya berkesempatan menjalani pra-sidang. Dan setelah memaparkan gagasan dari skripsi yang saya tulis, para penguji menghujani saya dengan belasan pertanyaan yang cukup sulit, di situ saya mencoba menjawabnya dengan cepat dan padat. Perasaan saya kala itu begitu kalut, kalut kalau nantinya skripsi saya ditolak oleh para penguji. Setelah pra-sidang selesai, betapa mengejutkannya bahwa dua orang penguji mengatakan bahwa skripsi saya amat bagus, komentar mereka ternyata lebih pada persoalan teknis penulisan seperti penggunaan titik koma dan varian teknis lainnya. Dengan kata lain, sebuah tiket untuk menuju sidang yang sebenarnya telah saya pegang.

Segala macam saran revisi dari para penguji telah saya catat, namun pasca pra-sidang itulah, musuh terbesar yang saya hadapi ternyata adalah diri saya sendiri. Betapa malasnya diri ini untuk melakukan revisi yang bersifat teknis. Akan tetapi karena dorongan dari berbagai pihak, akhirnya saya kembali berkutat pada skripsi dan melakukan revisi di dalamnya. Sampai pada tanggal 17 Juni 2015, sidang yang sesungguhnya datang mengahampiri. Dan sebagaimana pada pra-sidang, saya mempresentasikan isi skripsi dan menunjukan apa yang telah direvisi. Sidang kala itu rasanya seperti Déjà vu. Bagaimanapun saya berada di ruang yang sama dengan ruang ketika di pra-sidang. Walaupun saya akui bahwa pertanyaan yang dilontarkan kali ini begitu tajam, rasanya pertanyaan itu mendorong saya untuk jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam dengan diam tanpa kata.

Seperti mimpi, namun saya masih ingat betul bahwa kala itu ketua sidang menjabat tangan saya dan mengatakan bahwa; “Selamat ya Baiquni, kamu lulus”. Saya lulus skripsi dengan nilai A sangat memuaskan. Sebuah seremonial dilakukan, berfoto bersama kawan-kawan yang lain dengan memakai topi mahkota dan rangkaian balon bertuliskan S.Hum, Sarjana Humaniora. Dalam arti yang seperti itu, saya siap untuk menjalani ritual wisuda.
Sembari menunggu wisuda yang jaraknya dua bulan setelah sidang, saya mulai mencari pekerjaan. Beruntung dalam waktu yang cukup singkat, saya diterima di sebuah  media yang terletak di Jakarta. Sejak saat itu saya menaggalkan status mahasiswa dan menjadi seorang content editor, bergulat dengan asupan berita setiap harinya.

Singkatnya, wisuda tanggal 28 Agustus 2015 pun tiba. Sebelum berangkat wisuda, saya telah menyiapkan karton yang bertuliskan “terima kasih bidikmisi”. Niatnya adalah untuk berpose dengan karton tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap program bidikmisi yang telah mengantarkan saya menjadi sarjana. Dalam kesempatan wisuda tersebut, adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa dapat mengajak ibu, bapak, dan kedua adik perempuan saya ke kampus UI. Kedua orangtua saya memang bukanlah sarjana, namun saya bangga kepada mereka karena telah mendidik saya menjadi seorang sarjana seperti saat ini. Terlebih bahwa nama saya ditampilkan pada saat prosesi wisuda sebagai mahasiswa yang lulus dengan menyandang status cum-laude, dengan  IPK 3,56. Itulah sekiranya hadiah tambahan yang saya berikan khusus untuk orangtua saya.

Beberapa hari setelah wisuda, salah seorang kawan mengunggah screenshoot twit daei Direktorat Jenderal Pendidikan Tingggi ke grup whatsapp jurusan. Betapa terkejutnya saya bahwa twit dari @dikti tersebut berisi foto saya yang sedang berpose dengan sebuah karton bertuliskan “terimakasih bidikmisi”. Sebelumnya, foto itu memang sempat saya posting di grup FB bidikmisi nasional dan sempat pula saya mention ke bapak SBY dan bapak Muhammad Nuh. Akan tetapi saya tidak mengira bahwa foto itu dijadikan ikon oleh Ditjen Dikti untuk mengucapkan selamat wisuda bagi seluruh mahasiswa penerima bidikmisi yang lulus tahun ini.

Akhir kata, saya mengucapkan banyak terimakasih kepada berbagai macam pihak yang telah mendukung saya. Meskipun begitu, dunia akademik selalu tampak menarik dan mengasykan. Untuk itu saya berharap agar dapat melanjutkan pendidikan lagi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, S2. Semoga. :)

You Might Also Like

2 komentar

  1. Saya lebih suka kalau misalnya skripsinya kamu nyiptain teorimu sendiri Riz, hihi. Karena kadang aku pikir Indonesia perlu menciptakan mazhab filsafatnya sendiri. BTW, selamat yah..

    ReplyDelete
  2. wih keren blog baru lu..

    kun, follow blog baru gw dong!
    denyhun.blogspot.co.id

    ReplyDelete

Google+ Followers

Gallery