On Forgiveness

7/05/2016


Sore tadi saya begitu menikmati teks Deridda; “On Forgiveness”, sebuah gumpalan pemikiran filsuf postmo yang saya kira begitu relevan bila dikontekstualisakan pada hari raya Idul Fitri esok hari. Di saat kita sama-sama tahu bahwa esok kata “maaf“ mengalami deflasi akut dan akan menjadi barang obral yang akan sangat mudah untuk dijumpai. Dan boleh jadi esok kita terlelap dalam hiruk pikuk maaf-memaafkan, merasa tradisi yang kita lakukan sudah semestinya, sudah dari sananya begitu, lalu kemudian amnesia atau bahkan tidak peduli lagi dengan status ontologis dari maaf itu sendiri. Untuk itu saya merasa perlu menulis ini, anggap saja hasil ngabuburit di akhir Ramadan tahun ini.


“Maaf”, yang kerap diasosiasikan dalam dua bagian; meminta maaf dan memberi maaf, di situlah Deridda lalu menaruh porsi besar pada yang kedua, memfilsafatkan memberi maaf (selanjutnya baca: pemaafan). Tatkala saya memaafkan kalian dari semua kesalahan yang telah kalian lakukan pada saya, pertanyaan Deridda adalah apakah yang telah saya lakukan itu benar-benar sebuah pemaafan? Sialnya, Deridda dalam menjawab pertanyaanya sendiri justru menyatakan bahwa pemaafan itu hanya layak disebut pemaafan bila bekerja pada ranah logika memaafkan sesuatu yang tidak dapat termaafkan (Forgiveness forgive only the unforgivable). Artinya, pemaafan dalam definisi Deriddean itu telah selalu mengkeksluksi dirinya dari berbagai normalitas kemungkinan, dan di saat yang bersamaan justru lebih memilih untuk bersemayam dalam lorong gelap ketidakmungkinan. Di sinlah pemaafan adalah sesuatu yang hampir mustahil untuk dilakukan.


Parahnya lagi, bagi Deridda pemaafan yang dibayangi oleh negoisasi, kalkulasi transaksional, hingga imperatif hipotetikal adalah sebuah klaim tentang pemaafan belaka. Lalu bagaimana dengan pemaafan pada hari raya idul fitri? Bukankah 1 syawal adalah momen negoisasi aparatus kekuasaan? Bukankah lebaran itu sendiri adalah kalkulasi transaksional, ada hitungan matematis tentang berapa banyak benefit yang didapatkan, kepentingan politis dari yang paling remeh-temeh misalnya? Dan bukankah maaf-memaafkan esok hari itu adalah imperatif hipotetikal akibat tradisi yang telah mendarah dan mendaging? Saya pikir pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang kita perlu renungi saat ini. Jadi, masih mungkinkah pemaafan itu kita lakukan esok hari? entahlah, yang jelas dalam sebuah klaim pemaafan belaka, saya telah memaafkan kalian kok. Tenang aja.  hahaha

You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Gallery