Frekuensi

12/12/2016

Pernah ada hari ketika aku mengenalmu via frekuensi
Siapa namamu? begitu sapaku
Lalu kita tenggelam dalam basa-basi
Membiarkan waktu tergeletak tak bernyawa
Sementara kita sibuk bertransaksi informasi

Sejak itu, kita mulai menjangkarkan silaturahmi
Menciptakan kalimat tanya tentang kabar
Menarasikan plot kita yang belum final
Memilah ihwal apa yang bisa direduksi di antara kita
Hingga tercapai satu reduksi sederhana; Puisi
Suatu permainan yang terdiri dari imajinasi dan bahasa

Sekali lagi, pencapaian kita ini dimediasi frekuensi
Frekuensi mendeterminasi ruang dan waktu
Distansi jadi tak lebih sebagai senjakala belaka
Sebuah mitos terdahulu akan ketidakmungkinan

Untuk itu, aku bersyukur dilahirkan di tengah frekuensi
Di mana ketidakmungkinan adalah defisit imajinasi
Sementara imajinasi itu sendiri adalah bagian dari puisi
Petanyaanku, maukah kau berbagi bahasa?
Berbagi puisi untuk sebuah asa bersama

You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Gallery