Namai dan Kuasai

1/22/2017



Pertanyaanku cukup sederhana,  kenapa sebuah gunung bisa dinamakan gunung? Kenapa buah melon bisa dinamakan sebagai melon? Atau kenapa diriku diberi nama Rizki Baiquni Pratama? Mungkin cepat-cepat kita akan menjawabnya bahwa nama-nama itu memang sudah dari sananya, telah begitu sejak lama, tidak usah dipikirkan. Nama Rizki Baiquni Pratama pun merupakan pemberian dari kedua orang tua, pepatah kuno mengatakan apalah arti sebuah nama, terima saja dan lagi-lagi tidak perlu dipikirkan. Tapi, aku jelas tidak puas dengan jawaban itu. Jadi, bisakah kita membayangkan sebuah gunung di ujung sana dinamakan sebagai yuafu? Bisakah kita menamakan buah melon di pasar sana sebagai poyoro? Atau bisakah kalian membayangkan namaku bukan Rizki Baiquni Pratama, tetapi Kuoro Buotu Polala? Kalau kita bisa membayangkannya, lantas kenapa kita tidak menggunakan nama baru yang telah kita buat barusan?

Jadi begini, akar dari apa yang kita permasalahkan di atas sebetulnya bertumpu pada perkara kekuasaan. Kekuasaan di sini janganlah dibayangkan sebagai raja maupun kekuatan politik semata. Kekuasaan juga bukan sekadar militer apalagi soal kekuasaan geng-geng semasa sekolah. Kekuasaan jelas jauh lebih dari itu. Kekuasaan pada definisinya yang paling superior berarti secara berkesadaran menamai sesuatu yang belum bernama. Dalam memanami, kekuasaan menampakan wujudnya pada bentuk yang sangat ramah. Dengan menamai sesuatu, berarti kita telah menguasai sesuatu itu. 

Apabila gunung dinamai sebagai gunung, pastilah ada orang pertama yang menamainya. Jauh sebelum ada yang menamainya, orang-orang hanya dapat menunjuk-nunjuk objek tersebut ketika sedang membicarakannya. Orang pertama inilah yang berhasil menaklukan objek itu dengan cara menamainya sebagai gunung. Orang-orang kemudian mengikutinya, juga menyebut objek tersebut sebagai gunung. Orang-orang tidak perlu lagi untuk menunjuk atau bahkan membawa objek tersebut ke hadapan orang lain. Cukup katakan gunung, orang lain pun akan paham atas itu. 

Meski orang-orang telah menamainya sebagai gunung, sekarang itu nyatanya tidak lagi cukup. Ternyata ada banyak gunung di luar sana. Orang-orang mulai kerepotan untuk membedakan gunung yang satu dengan gunung yang lain. Tidak mungkin menyebut semuanya sebagai gunung. Lalu muncul lagi orang pertama yang menamai gunung di daerahnya sebagai gunung merapi. Di tempat terpisah, ada orang pertama yang menamakan gunung di daerahnya sebagai gunung papandayan. Hal ini berlanjut ke setiap tempat. Gunung-gunung dinamai secara lebih spesifik. 

Hal yang menarik adalah orang-orang ternyata tidak pernah cukup dengan menamainya demikian. Menyebut papandayan atau merapi tidak cukup. Orang-orang mulai melakukan penyelidikan dalam rangka mencari inti penyusun dari gunung-gunung itu. Muncul kemudian istilah berupa nama-nama yang baru. Nama-nama itu diberikan oleh orang pertama yang berhasil mendeteksinya. Dengan cara menamai, kekuasaan seketika bekerja. Di situ sains kian berada dalam proyek menamai ini. Bila awalnya orang-orang tidak dapat berbuat banyak ketika terjadi letusan gunung dan banyak korban jiwa. Kini, dengan menamainya, orang-orang dapat mengantisipasi aktivitas gunung, memprediksinya, hingga menunda letusan. 

Sampai di sini, menamai berarti menguasai. Tanpa menamai, sesuatu itu akan terus berada dalam kegelapan, lepas dari kendali kita, bergerak bebas tanpa bisa kita antisipasi. Ini berlaku untuk apapun yang ada di dunia. Dan sejauh itu, keluarga, lingkungan, sekolah menjadi pihak yang turut bertanggung jawab dalam agenda ini. Jika ada kesempatan, kita dapat menamai sesuatu, selebihnya kita hanya diwariskan dan mewariskan secara repetitif nama-nama itu, kita dididik untuk mengingat nama yang telah diberikan sebelumnya.

Dunia bekerja pada peritiwa mengingat nama dan menamai. Segala aktivitas berada dalam logika tersebut. Lalu bagaimana dengan nama yang dilekatkan pada seseorang? Tentunya, nama seseorang juga merupakan produk dari kekuasaan. Orang tua kita menamai kita seperti saat ini juga untuk mengantisipasi kontiunitas kehidupan kita. Mengantisipasi sejauh mana kita yang diberikan nama untuk berada dalam tatanan nilai yang telah digariskan oleh orang tua. Tidak hanya itu, ada kebudayaan, agama, hingga negara yang mengintai nama kita. Dalam sudut pandang negara, nama kita adalah statistik bagi mereka untuk menguasai diri kita. Tepat ketika kita lahir, negara telah membebankan tiap kepala akan pajak, pelunasan hutang negara, hingga perkara jatah subsidi. Catatan sipil seperti akta kelahiran dan KTP bekerja untuk itu. 

Sebagai penutup, jika menamai adalah mengusasi, maka pertanyaanya kemudian, bisakah kita melepaskan diri dari dinamai, melepaskan diri dari apa-apa yang menguasasi diri kita? Jawabanku tentu tidak bisa. Kalaupun kita berhasil mengubah nama kita, selebihnya kita akan tetap terperangkap dan dikuasi oleh nama baru kita itu. Kita tidak dapat melepaskan diri dari pendefinisian orang terhadap nama kita, bahkan nama yang kita ciptakan sendiri. Tapi, ini tentu cukup adil, bagaimanapun, jika kita bisa menamai sesuatu, kita harus menerima untuk dinamai sebagai konsekuensinya. Beruntunglah orang yang menamai sesuatu lebih banyak dibandingkan dari apa yang dinamai terhadap dirinya.
   

  


You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Gallery