Selamat Tahun Baru 2017

1/01/2017


Seorang kawan bertanya kepadaku, "Qun, apa  yg lo paling harapkan dari negara ini pada tahun 2017?" Aku diam sebentar, lalu aku katakan padanya, "Harapan gue adalah agar pasal penistaan terhadap agama dihapuskan." Lalu ia pun mengangguk tanda menyetujuinya.

Aku sendiri punya cukup alasan untuk jawaban itu. Suatu agama, pikirku, pada dasarnya secara inheren memiliki doktrin yang telah dan akan selalu menistakan agama lain. Sejarah agama adalah sejarah penistaan. Kita paling tidak dapat membacanya di kitab suci masing-masing. Dan aku rasa sudah satnya bagi kita untuk jujur atas itu. 

Adanya pasal penistaan agama hanya akan membangkitkan romantisme akan superioritas masa lalu. Memprovokasi ingatan dendam yang bahkan sudah terkubur sangat dalam. Nasrani adalah penistaan terhadap kemurnian Yahudi. Sebaliknya Yahudi adalah pembunuh Yesus, tokoh sentral dalam Nasrani. Sementara itu, doktrin trinitas Nasrani adalah penyimpangan terhadap ketauhidan Islam. Dan tentu sebaliknya, Nasrani memahami tuduhan penyimpangan tersebut sebagai sebuah penistaan terhadap agamanya. 

Belum lagi berbicara berbagai agama dan keyakinan lainnya yang tersebar di muka bumi ini. Problemnya jelas sangat rumit. Ditambah lagi dengan adanya eksplorasi dan kebenaran dari sains yang selalu berpotensi untuk dianggap menistakan agama. Dahulu, umat Nasrani percaya bahwa bumi adalah datar. Tetapi, di tengah keyakinan itu, seorang filsuf yang bernama Hypatia justru mengatakan bahwa bumi itu bulat. Hypatia kemudian dianggap sebagai seorang penista agama. Ia dihukum mati atas keyakinan sains spekulatifnya tersebut. 

Tentu saat ini kita tidak lagi menginginkan adanya korban jiwa hanya karena berbeda dan lalu dianggap menista. Ada lebih banyak persamaan di antara kita dibandingkan dengan perbedaan yang perlu diributkan. Namun ini bukan berarti aku sepakat untuk melenyapkan perbedaan sama sekali, perbedaan itu justru harus terus dipelihara, ia ditempatkan dalam posisi terhormat di masing2 komunitas atau bahkan individu yang meyakininya. Untuk itu, yang dibutuhkan adalah kesalingmengertian berbagai pihak untuk tulus hati menyepakati ketidaksepakatan.

Akhir kata, aku optimis bahwa bangsa ini akan lebih cerah di tahun yang baru. Memang akan ada banyak tantangan yang akan kita hadapi, tetapi itu juga akan diiringi oleh rasionalitas kita yang semakin matang. Yang kita butuhkan bukan lagi nyinyirisme yang menyulut api pertengkaran, tetapi dialogisme bermutu yang mampu meyalakan cahaya di tengah kegelapan saling curiga. Sekian. Selamat tahun baru. 😅😅😅

You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Gallery