Kebangkitan Nasional dan Rekonstruksi Kreatif

5/20/2017

Ada banyak cara untuk merayakan hari kebangkitan nasional. Di beberapa tempat misalnya, kita menyaksikan ragam kegiatan, mulai dari jalan santai, konser musik,  pergelaran seni tradisional, ziarah ke makam pahlawan, hingga zikir dan doa bersama.

Sebagai sebuah perayaan--dan lazimnya sebuah perayaan pada umumnya-- hari kebangkitan nasional menempatkan dirinya dalam tiga leksikon waktu; masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Masa lalu merupakan cerita tentang hadirnya kesadaran sekaligus perlawanan terhadap kolonialisme, masa kini adalah upaya mengingat kembali yang lalu itu, sementara masa mendatang bermakna harapan yang senantiasa diletakan setelahnya.

Lalu sebagian besar bertanya, "Apa sebetulnya harapan yang harus kita letakan?" Sebab tampaknya sudah tak ada lagi kolonialisme, era penjajahan telah selesai, pun rasanya kita sudah dan terus bangkit sejak 109 tahun lalu, tak ada yang perlu dirisaukan, semua baik-baik saja. Untuk itu, jawaban sambil lalu yang kita sodorkan dalam menanggapi pertanyaan itu ialah, "Ingin melihat Indonesia lebih baik lagi." Selesai.

Jawaban seperti itu yang sebetulnya sangat lazim saat ini, diucap oleh setiap orang Indonesia kebanyakan. Dan bila kebenaran adalah soal statistik semata, tentu jawaban itu memiliki nilai kebenaran mendekati 99%, lalu menjadi semacam pengetahuan apriori bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Sampai di sini, problemnya adalah kita selalu membutuhkan parameter sebagai alat pembanding dalam menilai sesuatu. Sialnya lagi, kita bahkan tidak pernah mau tahu apa yang menjadi parameter pada kata "lebih baik" itu. Sebagai sebuah kata, "baik" tidak pernah mampu berdiri di atas kakinya sendiri, selalu ada ukuran yang menopangnya. Bila kita tidak mampu merumuskan alat ukur itu, maka boleh jadi kita hanya sekadar memroduksi klise retoris tentang sebuah negara.

Namun demikian, kegagalan menghadirkan jawaban yang paripurna itu sesungguhnya lahir dari pertanyaan yang kita ciptakan.  Oleh karenanya, klise rerotis yang telah kita daulatkan sebagai jawaban itu sebetulnya berangkat dari sebuah pertanyaaan yang juga kurang tepat.

Bila diradikalkan, pertanyaan yang saya pikir tepat adalah, "Mengapa kita masih terus meletakan harapan?" Hanya pada pertanyaan seperti inilah, otak kita didesak untuk berpikir melampaui ruang dan waktu. Semangat sejarah, sebagai yang lampau, dihadirkan kembali atas konsekuensinya terhadap masa depan. Gamblangnya, bila dahulu ada dr. Wahidin Soedirohousodo, maka yang kini perlu dilakukan adalah sebuah upaya rekonstruksi, bahwa apa yang sekiranya akan dipikirkan dan dilakukan dr. Wahidin Soedirohoesodo jika ia berada pada masa kini.

Bila dahulu ia mampu mendeteksi bahwa kolonialisme itu adalah sebuah masalah besar sekaligus musuh bersama, maka apa yang akan ia akan deteksi sebagai musuh bersama bila ia ada saat ini. Tidak hanya itu, jika dahulu ia mampu membayangkan bahwa perjuangan atas nama nasionalisme itu sungguh-sungguh ada, maka apa yang akan ia bayangkan bila ia ada saat ini, perjuangan atas nama kemanusiaan universal kah misalnya?

Hanya dengan cara rekonstruksi kreatif seperti inilah, kita mampu merefleksikan ulang akan apa yang sungguh-sungguh kita harapkan dan mengapa kita masih terus berharap di dalamnya. Terlebih di tengah-tengah kondisi keanekaragaman yang ada saat ini. Di saat masing-masing orang bersikukuh bahwa mereka memiliki nalar dan iman yang lebih baik dibandingkan yang lainnya. Jelas rasa sok tahu adalah musuh kita. Wallahualam.

Depok, 20 Mei 2017
-Baiquni










You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Gallery