Sudahlah Boni.. .

8/08/2017

Dulu sekali, saya pernah membaca sebuah buku yang ditulis oleh Boni Hargens, Demokrasi Radikal. Buku itu sendiri sebetulnya merupakan skripsi Boni yang dibukukan. Bila kebanyakan mahasiswa ilmu politik menulis tentang politik praktis, maka lain halnya dengan Boni, skripsi yang dibukuan olehnya itu jutsru berurusan dengan problem filsafat politik. 

Dalam Demokrasi Radikal, Boni mencoba menelusuri paradoks demokrasi liberal, juga berusaha mengkritiknya dengan kerangka post-marxisme ala Ernesto Laclau dan Chantal Mouffe. 

Bagi saya, apa yang dilakukan Boni itu merupakan proyek yang patut diapresiasi. Mengingat bahwa demokrasi liberal yang tengah kita anut memang banyak menimbulkan masalah, terutama soal konsep konsensus yang sedemikian opresif bahkan terksesan otoritarian.

Sebaliknya, demokrasi radikal justru merupakan upaya untuk mengambil kembali suara-suara yang kerap tercecer. Suara yang selalu dibungkam oleh penguasa atas nama konsensus bersama. Di sinilah demokrasi radikal menemukan maknanya, yakni sebagai upaya disensus yang senantiasa menghargai perbedaan.

Gamblangnya, dalam demokrasi radikal, perbedaan politik adalah hal yang sangat niscaya. Perbedaan itu senantiasa dihargai, tak pernah ada tendensi untuk melenyapkan lawan politik.

Untuk itu, apapun visi dalam sebuah organ gerakan, baik itu komunitas pecinta lingkungan, kelompok pro LGBT, kelompok penganut agama minoritas, pendukung komunisme, hingga kelompok islam yang ingin mendirikan khilafah sekalipun, haruslah dianggap sebagai bagian dari diskursus publik yang harus dihargai.

Sialnya, apa yang pernah ditulis itu ternyata jauh dari kata dan perbuatan. Boni belakangan membela isi pidato Viktor dan menganggap bahwa kelompok-kelompok islam radikal memang harus dilenyapkan. Boni menyebut bahwa itu semua pantas dilakukan demi kemasalahatan bersama.

Padahal, di dalam diskursus politik yang bahkan ia pernah tulis itu, apa yang disampaikan belakangan olehnya tentu dapat diklasifikasikan sebagai bagian dari opresifisitas.

Mengatur apa ini dan apa itu, serta merasa paling benar dalam menafsirkan sesuatu justru yang paling berbahaya.

Sudahlah Boni...


You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Gallery