KAMI TIDAK BUTUH ROKOK, APALAGI IKLAN-IKLANNYA

11/05/2017

Anak-anak adalah para peniru yang ulung. Mereka memiliki kemampuan meniru segala aktivitas orang-orang di sekelilingnya. Apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan mengatasi kuriositas yang mereka miliki.

Sayangnya, kerap kali kita menyaksikan bahwa apa yang anak-anak tiru itu bukan merupakan hal yang baik. Di beberapa tempat, kita bisa dengan mudah menemukan anak-anak yang sudah merokok, jauh sebelum waktunya.

Southeast Asia Tobacco Control Alliance (SEATCA), di dalam Atlas Pengendalian Tembakau di ASEAN(2010), menyebut bahwa lebih dari 30% anak Indonesia sudah merokok sebelum usia 10 tahun. Jumlahnya mencapai 20 juta anak. Tentu ini merupakan hal yang menyedihkan.

Ada banyak faktor yang melatar belakangi fenomena merokok di kalangan anak-anak. Beberapa di antaranya adalah orang tua yang merokok di depan anaknya, lingkungan pertemanan yang kurang memadai, hingga iklan rokok di media massa yang kian masif.

Berbicara mengenai iklan rokok, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 menyebut bahwa penayangan iklan di televisi dibatasi hanya pukul 21:30 sampai 5:00 pagi. Problemnya, tak pernah ada jaminan bila anak-anak tidak melihat iklan itu pada rentang waktu tersebut.

Iklan rokok memang tak pernah menampilkan aktivitas merokok segala gamblang. PP No 109 Tahun 2012 tak mengizinkan iklan yang tersurat, hanya membolehkan yang tersirat. Oleh karena itu, lazimnya, yang ditampilkan oleh iklan rokok di televisi seputar aktivitas yang inspiratif, nilai persahabatan, hingga gambaran tentang lelaki yang berpetualang menaklukan dunia.

Padahal, bagi saya sendiri, apa yang tersirat sebetulnya lebih berbaya bila dibandingkan dengan yang tersurat. Hal yang tersirat akan selalu memaksa penciptaan asosiasi. Merek rokok A, B dan C lalu diasosiasikan sebagai sesuatu yang dapat mengisi kehidupan. Dipahami sebagai jalan kebenaran yang harus diikuti.

Terakhir, kejujuran selalu lebih berharga ketimbang kepura-puraan. Iklan rokok bersembunyi di balik kepura-puraan itu. Fiksi yang kemudian dipelihara oleh regulasi. Jelas yang jadi korban adalah anak-anak. Jadi, mari kita katakan dengan lantang bahwa, "KAMI TIDAK BUTUH ROKOK, APALAGI IKLAN-IKLANNYA"

You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Gallery