Tahun Baru, Waktu dan Ketakbermaknaan

1/01/2018

Source: pixabay.com

Banyak yang berpikir bahwa waktu adalah skema untuk menandai pencapaian seseorang. Detik yang berganti menit, jam, hari, bulan, hingga tahun yang kemudian dipahami sebagai sebuah perayaan. Serba cepat, spesial, meriah dan penuh kegembiraan.

Beragam resolusi pun diikrarkan, ada yang melabuhkan doa serta harapan untuk lulus kuliah, enteng jodoh, kenaikan pangkat, naik gaji, hingga hal lainnya yang dipandang harus progresif, mesti dapat lebih baik di bandingkan tahun sebelumnya.

Dalam kajian filsafat waktu, apa yang dimaknai oleh banyak orang itu disebut sebagai presentisme. Sederhananya, masa kini ada dan tengah dijalani, masa lalu pernah dilewati dan tak ada lagi, sementara masa depan belum hadir dan dipastikan akan datang. Presentisme bahkan pernah menjadi bangunan fisika yang diyakini oleh Newton.

Menariknya, segala imaji mengenai hal-hal di atas, termasuk presentisme, dimentahkan oleh Albert Esintein. Dalam peristiwa kematian sahabatnya, Michele Besso, yang meninggal pada Maret 1955, Einstein menyatakan bahwa meski Besso telah mendahuluinya dalam kematian, itu tidak bermakna apa-apa.

“Ini tidak penting. Bagi orang seperti kita, yang percaya pada fisika, perbedaan antara masa lalu, sekarang, dan masa depan hanyalah sebuah ilusi, betapapun gigihnya,” kata Eisntein dalam sebuah surat kepada keluarga Besso.

Apa yang ditulis Einstein dalam suratnya itu, jelas tak perlu diherankan. Pasalnya, gagasan mengenai waktu yang bersifat ilutif, merupakan konsekuensi atas penelitiannya mengenai Teori Relativitas.

Dalam Teori Relativitas, tak ada yang dianggap sebagai acuan mutlak. Pun demikian halnya dengan waktu yang bersifat relatif terhadap sudut pandang pengamat. Hasil pengukuran terhadap hubungan yang menyangkut waktu dijaminkan pada perkara keserempakan.

Hal itu erat kaitannya dengan dilatasi waktu. Sebuah konsep yang menjelaskan fenomena awet muda yang dialami oleh astronaut tatkala terbang menyamai kecepatan cahaya. Dalam dilatasi waktu, peristiwa yang tengah terjadi pada satu waktu yang sama, dideterminasi pada seberapa cepat pengamat itu bergerak.

Seorang astronaut yang tengah melancong ke luar angkasa dengan menyamai kecepatan cahaya, akan berpikir dirinya hanya menghabiskan beberapa tahun. Namun, orang yang berada di bumi telah melewati ratusan tahun lamanya. Tak ada acuan waktu objektif di situ.

Saat itu terjadi, batas antara masa lalu, masa kini dan masa depan runtuh dengan sendirinya. Sama halnya seperti ruang, waktu dalam pemahaman Einstein adalah dimensi kontinuum yang hadir secara serentak.

Oleh karena itu, waktu sebetulnya bukanlah sesuatu yang hadir secara berurutan. Tetapi, eksistesinya selalu ada dalam satu kesatuan peristiwa yang dimulai, dilangsungkan dan dinantikan secara bersamaan. Dalam hal ini, waktu merupakan realitas padat yang tak terbagi.

Jika ditelusuri lebih jauh, waktu sebagai realitas yang tak terbagi itu sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh seorang filsuf Yunani, Parmanides. Dalam elaborasinya terhadap waktu, Parmenides meyakini aliran filsafat waktu yang dikenal sebagai eternalisme. Pendasaran akan etrenalisme itu jugalah yang sebetulnya dipercaya oleh bangunan fisika Einstein.

Kala itu, Parmanides berusaha mengatasi argumentasi yang digelontorkan oleh Herakrlitos. Heraklitos sendiri bersikukuh bahwa segalanya berubah secara konsiten. Bagi Heraklitos, manusia adalah ia yang selalu menjadi (becoming). Tak pernah ada yang tetap. Semuanya akan bermuara pada ketiadaan.

Sementara itu, Parmanides mengatakan bahwa apa yang tampak sebagai perubahan pada dasarnya 
hanyalah tipuan indra semata. Sebaliknya, yang ada (being), termasuk alam semesta, justru merupakan entitas tunggal yang tak berubah.

Alam semesta, kata Parmanides, tidaklah berawal dari ketiadaan. Segala sesuatunya akan selalu ada, tak diciptakan, eternal dan tak mungkin musnah. Realitas pun akan selalu berkesinambungan dalam dirinya sendiri dan pada segala titiknya.

Dalam pandangan Parmanides, seorang Rizki Baiquni Pratama tidaklah pernah berubah sama sekali. Apabila ada yang tampak sebagai sebuah perubahan, maka itu adalah sesuatu yang terjadi dalam satu sistem tertutup dan tak berubah.

Oleh karena itu, menurut Parmenides, yang ada (being) adalah sesuatu yang abadi (eternal). Ia tidak memiliki masa depan dan masa lalu, juga tak terikat oleh waktu.

Untuk sampai pada kesimpulan itu, Parmenides mula-mula berargumentasi bahwa memikirkan ketiadaan sesuatu adalah ketakmungkinan. Sebabnya, untuk dapat memikirkan sesuatu itu tak ada, manusia akan selalu terperangkap dalam ide tentang ada terlebih dahulu.

Memikirkan ketiadaan Tuhan tidak akan pernah mungkin, karena setiap kali memikirkannya, kita akan selalu jatuh pada pengandaian Tuhan yang eksis. Sama halnya dengan memikirkan alam semesta dan seluruh isinya, membayangkan ketiadaan alam semesta adalah tak pernah mungkin.

Selanjutnya, mengingat bahwa eksistensi negatif (ketiadaan) adalah tak mungkin, maka konsekuensi logisnya, kata Parmenides, eksistensi positif juga menjadi tak dapat dibedakan. Untuk dapat membedakan X dari Y dengan mengatakan bahwa X bukan Y adalah tak mungkin.

Jika dipaksakan, seseorang akan secara logis terperangkap untuk membedakan sesuatu yang berbeda. Membedakan antara manusia dan hewan dengan menyebut bahwa “manusia” bukan “hewan” sama saja dengan memikirkan suatu entitas yang tak pernah ada, dan itu tak mungkin. Dengan kata lain, realitas ini harus selalu satu, homogen dan tak terbagi.

Dalam kaitannya dengan waktu, membedakan masa lalu, masa kini dan masa depan tak mungkin dapat dilakukan secara logis. Indra manusia mungkin akan melihat itu sebagai sesuatu yang bebeda. Padahal, keseluruhan bangunan waktu itu hanya ada di dalam pikiran.

Memikirkan sesuatu yang akan datang dan sesuatu yang telah selesai, tak lain hanyalah menengok sesuatu yang ada di dalam pikiran. Untuk itu, menurut Parmenides, realitas ini sebetulnya terdiri dari dua macam. Yang mutlak yang dapat dipikirkan secara logis, serta yang ilutif yang selalu dipersepsi oleh indra.

Dalam sudut pandang teologi, islam misalnya, gagasan mengenai filsafat eternalisme bersemayam pada doktrin tentang seluruh peristiwa yang telah ditulis dan ditakdirkan oleh Tuhan di Lauh Mahfuz.
Gagasan teologis mengenai Tuhan yang telah mencatat segala peristiwa dalam keserampakan waktu, mengisyaratkan bahwa waktu merupakan bangunan satu kesatuan logis yang tak terpisahkan. Manusia seolah memiliki kemampuan untuk merencanakan sesuatu di masa depan, padahal itu tak lebih dari efek samping panca indra yang sedang menipu manusia.

Jika diradikalkan, keberadaan dan sudut pandang manusia dalam memahami kehendak bebas, tak lebih sebagai proyeksi semu yang keliru dalam memandang waktu sebagai serialitas. Ide mengenai takdir mendapat legitimasinya pada cara berpikir seperti itu.

Pada akhirnya, bila mengamini Einstein dan Parmenides, waktu menyimpan satu ketakbermaknaan secara inheren dalam dirinya. Tatkala waktu tak lagi dianggap memiliki watak objektif, maka yang tersisa hanyalah sekeping peristiwa yang tak lagi menarik.

Uniknya, manusia masih memiliki panca indra yang selalu mampu mengambil ruang yang tak bermakna itu, serta memberikan makna atas peristiwa yang telah dilaluinya. Tak hanya itu, jika pun di sana memang ada takdir yag telah dituliskan, manusia akan berusaha memahaminya sebagai bagian dari ikhtiar yang terus dilakukan.

Segala pengharapan, doa, kemeriahan, hingga bunyi terompet semata-mata dilakukan demi melepas waktu yang telah berlalu. Saat itu terjadi, semua orang berpikir untuk berubah ke arah yang lebih baik. Oleh karenanya, waktu mungkin memang berguna secara sosial, betapapun itu merupakan sebuah ilusi semata. 

You Might Also Like

0 komentar

Google+ Followers

Gallery